Ukhuwah dan Indahnya Awal Hijrah

One afternoon in the mid of 2006-2007…

Saat itu saya tengah menghadiri majlis Ustadz Yazid Jawas di Masjid Al Furqon DDII, Kramat Raya, Senen. Ustadz mengumumkan bahwa kajian libur untuk beberapa saat, tepatnya beberapa bulan. Kurang lebih beliau berucap seperti ini:

“Insya Allah kajian ini libur sampai beberapa bulan ya. Kenapa libur? Karena saya mau menuntut ilmu, mau ngaji. Memangnya antum saja yang butuh ngaji? Saya juga butuh. Apalagi saya mengajar, menyampaikan ilmu. Kalau saya nggak ngaji, apa yang mau saya sampaikan kepada antum semua?”

Saya yang saat itu lagi ghiroh-ghirohnya ngaji sunnah, merasa tertampol dan tertohok sampai ke relung hati yang paling dalam. Beliau saja, yang sudah fasih bahasa arab, pandai baca kitab, ngajar di mana-mana, masih meluangkan waktu untuk duduk bermajlis, menuntut ilmu.

Lah saya? Masih suka males-malesan dan cari-cari alasan… *selftoyor  😭

Sejak itu, saya makin bersemangat menghadiri kajian dan duduk di majelis ilmu. Di mana ada kesempatan, ada barengan, dan ada ongkos tentunya, selalu saya usahakan untuk datang. Meski jauh sampai harus berdesakan naik KRL ke Bogor, atau naik bus Patas ke Jakarta bagian paling ujung sekalipun.

Prinsip saya, mumpung masih single (and free), akan saya manfaatkan waktu luang ini dengan sebaik-baiknya. Melakukan hal-hal yang akan sulit saya lakukan setelah menikah dan punya anak nanti. Ngaji dengan tenang, tekun mencatat dan fokus menyimak tanpa gangguan, misalnya.

Masa-masa awal hijrah bagi saya adalah satu dari sekian banyak momen terindah dalam hidup. Ketika langkah ini penuh semangat memburu taman-taman surga, di manapun mereka berada. Ketika uang saku dan gaji yang tak seberapa habis untuk ongkos naik angkot, membeli buku, majalah, gamis dan hijab baru. Ketika Allah pertemukan saya dengan mereka yang saling cinta dan mencintai karena Allah di jalanNya.

Sungguh, tiada kenikmatan yang melebihi nikmatnya memulai lembar kehidupan baru dalam naungan hidayah. Kadang ketika mengingat awal-awal mengenal sunnah, terbit sedikit kerinduan akan masa-masa itu. Suatu masa yang indahnya tidak tergantikan oleh apapun jua.

Cobalah sesekali bertualang ke masa lalu, ke masa awal-awal kita mengenal sunnah. Tekun mengkaji ilmu syar’i, tanpa disibukkan oleh fitnah. Lebih banyak mendengar, menyimak dan mengamalkan dibanding bicara tanpa ilmu. Masa di mana fenomena sosmed dan syubhatnya belum sedahsyat sekarang.

Bersyukurlah jika saat ini kita masih tegar menggenggamnya. Karena di jalan itu, banyak di antara kita yang berguguran, rontok satu per satu. Banyak di antara kita yang kembali kepada gemerlap kehidupan jahiliyah yang dulu kita tinggalkan. Banyak di antara kita yang Allah kehendaki tersesat setelah Allah anugerahkan hidayah.

Untuk kalian yang senantiasa ada dan menemani diri ini di awal-awal hijrah, yang tak segan menasehati ketika diri ini bersalah, yang mencintai dan menerima dengan setulus-tulusnya cinta dan penerimaan, yang sampai saat ini tetap teguh dalam menegakkan sunnah, meski ditentang dan dicerca…

Ingatkah kalian saat-saat di mana kita berbagi cerita tentang banyak hal sampai tak sadar telah lewat waktu tengah malam?

Suatu sore di mana kita khusyuk duduk menyimak kajian di balik hijab, tanpa terdistraksi oleh gadget, tanpa obrolan tak bermanfaat, tanpa selfie dengan latar hijab dan kitab kajian…

Suatu senja di mana kita berada dalam satu shaf jama’ah shalat Maghrib diterangi temaram cahaya lampu masjid kampusmu…

Suatu siang di mana kita menyantap menu favorit di warteg langganan, sambil tertawa dan bercanda, lepas tanpa beban…

Suatu hari di mana kita menyusuri koridor panjang itu sambil bergandengan tangan.. Dan tak henti-hentinya berkisah tentang masa lalu kita, rahasia-rahasia terdalam kita, impian-impian kita, sampai detail kriteria calon imam masa depan kita ((uhuksss)) 😜

Meski kini telah menjalani hidup kita sendiri, dengan mereka yang telah kita pilih dari hati, kehadiran kalian selalu ada di jiwa ini. And sometimes the good old days still knock the wind out of me. And when that happens.. This heart knows, there are things that only live in a memory. A kind of memory that never fades away.

Thank you very much dear BFFs, you’ve filled my life with a lot of sweetness, fun, laughters, lessons, and sparks in those starless nights. I will hold on to those memories, forever, and ever.

~ Jakarta, December 2017… when a memory flashed through your mind and you just sit there, reminisce for a while, and smile 🙂

© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pinterest ]

Advertisement

One thought on “Ukhuwah dan Indahnya Awal Hijrah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.