For The Sake of Privacy

Antara hidden last seen dan unchecked read receipts. Kamu pilih yang mana?

Beberapa hari ini ramai lalu lalang di linimasa saya tentang kenapa sih harus menyembunyikan last seen dan uncheck read receipts (menonaktifkan blue tick) di Whatsapp? Sekilas aja sih bacanya. Lagi riweuh mau open order soalnya πŸ˜…

Saya pribadi (ini siapa yang nanya ya? hahaha) memilih untuk menggunakan opsi hidden last seen karena satu alasan: PRIVACY.

Untuk opsi blue tick tetap saya aktifkan, karena sangat penting bagi saya (dan orang lain) untuk mengetahui apakah chatnya sudah dibaca atau belum.

I am a very private person, buat saya privacy itu penting bangetsss. Sesuatu yang nggak bisa dibeli oleh uang, status, dan popularitas. Lebih baik jadi rakjel aka rakyat jelata yang bebas kesana sini nggak ada yang ngenalin, daripada jadi sosok terkenal tapi ruang gerak terbatas.

Privacy juga yang membuat saya membatasi jumlah pertemanan, dan berhati-hati sebelum accept friend request di sosial media. Simply because not everyone needs to know EVERYTHING about you. Staying low is the key to a happier, peaceful life πŸ‘ŒπŸ»

Baik Whatsapp untuk keperluan pribadi maupun jualan, saya selalu menyembunyikan last seen. Saya tahu ada fitur ini dari adik saya yang emang introvert abiss. Udah tau kan yang mana? Jangan tanya siapa πŸ˜‚

Dari dirinya juga saya menikmati sisi lain, sisi introvert dalam diri saya. Sesuatu yang tadinya dianggap kekurangan, bahkan aib oleh sebagian orang, nyatanya adalah dunia kecil yang penuh dengan kebebasan.

Iya, saya ini ambivert. Both introvert and extrovert. Suka ngumpul-ngumpul, makan, ngobrol lama sama temen-temen deket, ketemu orang-orang baru.. Tapi sangat menikmati sekali momen-momen saat sedang sendiri. That’s why I always need “me-time aka alone-time”, to recharge the drained battery.

Back to “kontroversi” hidden last seen yay or nay (is it really a controversy?).. Saya sendiri sengaja menonaktifkan fitur last seen karena buat saya ada batasan-batasan yang tidak bisa dilanggar dalam berkomunikasi. Privasi, kebebasan, dan ketenangan.

Saya coba memposisikan diri jadi orang lain. Terakhir aktif jam sekian, kok chat saya dari tadi siang belum dibalas juga ya? Nah dari situ, bisa timbul deh pikiran macem-macem.. Zhon, syak wasangka, curiga, asumsi pribadi…

“Jangan jangan.. Dia sengaja nggak mau bales chat saya.. Jangan-jangan buat dia chat saya nggak penting..”

Isi kepala dan karakter orang kan beda-beda. Developer Whatsapp menyediakan fitur tsb bukanlah tanpa alasan. Seperti sosmed menyediakan fitur hide, mute, remove, block. Bukan tanpa alasan, apalagi tanpa manfaat. Namun sebagai opsi untuk lebih nyaman dalam bersosial media.

Nah, nyaman. Buat saya kata ini prioritas utama dalam berkomunikasi dan membangun relationship. Ketika isi sosmed lebih sering bikin kepala ini mumet daripada dapet manfaatnya, mungkin itulah saat kita harus bebersih sosmed. Nyapuin timeline sampai bersih.

Sebagai mamak milenial beranak tiga yang menjalani hari-hari tanpa ART plus punya usaha sampingan, buat saya fitur hidden last seen itu sangat membantu ketika jari yang cuma sepuluh ini nggak bisa segera bales chat yang sehari masuknya bisa nggak kira-kira jumlahnya.

Chat grup sekolah aja ada dua, bayangin kalo anaknya tiga bijik. Udah enam aja jumlahnya. Belom grup keluarga, keluarga besar, kerabat sak ndulur dari berbagai daerah di Indonesia, grup kerjaan kantor, grup temen-temen jaman abege, grup mamak arisan, grup klub entrepreneur, grup mamak hobi masak, grup mamak-mamak receh bin rempong yang suka menggalau dan cekikikan bersama…

Kalau menurut hemat saya (saya lho ya).. Lebih baik tidak dibaca dulu, daripada sudah dibaca tapi nggak segera dibalas. Salah satu alasannya ya untuk menghindari kemungkinan “jangan-jangan” di atas.

Begitu juga misalnya suami baca chat di Whatsapp saya. Saya meminta supaya saya diberitahu jika ada chat yang dibacanya, namun belum saya baca. Karena khawatir menimbulkan prasangka di hati si pengirim chat.

“Udah dibaca kok belum dibales? Shombong amattt…”

Sebetulnya saya ini orangnya cuek, mau disangka dan diomongin yang gimana-gimana juga nggak masalah. Tapi saya berusaha untuk tidak membuat orang lain berprasangka buruk terhadap saya, semata karena apa yang saya lakukan. Kalau udah berbuat yang nggak menimbulkan zhon masih dicap dan disangka begini begitu, ya itu bukan urusan saya.

Pernah waktu lagi sibuk-sibuknya menjelang open order, beberapa chat grup dan chat personal baru saya baca dan langsung dibalas keeokan harinya. Tak lupa saya meminta maaf dan menjelaskan mengapa saya telat membalas.

Saya cuma nggak mau bikin orang lain bersuuzhon-ria ketika chatnya belum dibalas. Kadang saya memang belum sempat baca karena chatnya tertimbun chat-chat lainnya. Bukan karena sengaja nggak mau baca. Meski ada juga sih chat-chat yang emang males bacanya. Jadi skip-skip ignore aja. Wkwkwkk.

Dan salah satu penyakit lama saya adalaaah.. Udah buka chat, ada insiden dadakan (air minum tumpah, anak berantem, kurir nganter paket, harus keluar rumah mendadak, baru inget harus ngangkat gorengan di dapur, and so on).. Eh ujung-ujungnya lupa bales chat. Nyadarnya setelah lewat beberapa hari. Pffftt, my bad 🀦

Anyway, hidup ini adalah tentang pilihan. Mau menyembunyikan last seen atau tidak, mengaktifkan centang biru atau tidak, semua adalah pilihan. Semua ada plus dan minusnya. So use it carefully. And prepare well for the consequences.

Nggak perlu kita maksain untuk menyamakan pilihan kita dengan pilihan orang lain. It’s about the freedom of choice. Ajang Pemilu aja satu keluarga bisa beda pilihan, apalagi soal last seen dan blue tick Whatsapp? Just chill, guysss πŸ˜„

Let them choose what they need to do. Selama nggak melanggar syari’at, perbedaan pilihan itu nggak perlu dibesar-besarkan. It’s just a matter of choice. So, choose it wisely. And try to respect others’ choices, too.

*) Hanya opini pribadi, feel free to disagree πŸ˜‰

~ Jakarta, November 2018… after a long and hectic day, now it’s time to sleeeep….

Β© AISYAFRA.WORDPRESS.COM

[ image source: Pixabay ]

Advertisements

13 thoughts on “For The Sake of Privacy

  1. Iya mbak bener semua itu adalah pilihan. Mau last seen nya disembunyikan atau enggak ya terserah sih sebenernya,semua tergantung dr masing masing orang.
    Kalo saya pribadi, selama ini saya enggak pernah nyembunyiin last seen ato centang biru. Soalnya saya kan tipe orang yang cuek ya mbak. Jadi saya gatau caranya perhatian kepada orang orang terdekat itu gimana. Jadi salah satu bentuk perhatian kecil saya agar tau mereka masih berkabar dan mode on ya itu, dg cara ngeliyatin last seen nya.wkwkwk

  2. Saya juga mengaktifkan fitur ini, alasannya biar privasi terjaga dan gak menimbulkan prasangka bagi chat yg tidak terbalas..

  3. Baru tau kalau ada ‘kontroversi’ tentang last seen dan centang biru. Jujur saja, saya sendiri malah kadang suka sebel sama orang yang ga keliatan last seen-nya, karena kalau mau kirim pesan jadi galau, ni orang masih aktif ga ya di WA. biasanya malah ga jadi saya hubungi. atau, kalau penting banget, biasanya saya kirim SMS daripada ambil risiko WA-nya ternyata ga aktif. after all, balik lagi ke ‘selera’ masing-masing sih, lebih nyaman gimana. πŸ™‚

  4. Saya baru tau malah kalau ini jadi kontroversi, hahaha.
    Saya persis banget samaa Mba soal settingan di whatsapp.
    Last seen dan live location nggak ada yg bisa liat.
    Tapi read receipts saya aktifkan..
    Setuju banget itu drpd bikin orang prasangka yang nggak nggak kan.
    Hahaha
    Kadang saya juga bisa gitu.
    Udah baca chat. Udah mikir mau balas apa. Eh, ada urusan mendadak lalu lupa. Beberapa hari kemudian cek grup ternyata balasan saya nggak ada. (Padahal di pikiran saya udah saya balas lo. Hahaha)
    Kayaknya kita juga mirip deh dr segi kepribadian.. hehehe..
    Kalau sudah sama org kenal lama.. saya ini banyak omongnya, kata orang saya juga banyak temennya. Karena berorganisasi kali yaa.
    Saya seneng juga kumpul2 keluarga, teman, reunian.
    Tapi kalau nggak ada kepentingan saya lebih senang diam di rumah.
    Yaah. Berada di tengah-tengah itu. Hehehe.
    Btw. Salam kenal dari Banjarmasin.
    Kayaknya udah lama follow tp belum pernah komen 😊

    • Wah, sama nih. Saya juga sering ngerasa udah bales chat tapi pas dilihat, lho kemana ya balasan saya.. Apa jangan-jangan balesnya sambil ngelindur πŸ˜‚

      Wah, nice to know someone like me. Mungkin karakter kita mirip2 juga kali ya.. Haha.. Salam kenal juga Amahrifa. Thank you for stopping by πŸ˜‰

  5. Hehe aku dua-dua nya kak.
    Last seen dinonaktifkan, begitu juga blue tick. Dulu cuma last seen aja, dg alasan sama seperti alasan diatas hehe. Sekarang, lebih nyaman gak pake centang biru juga. Alasan-alasannya sama juga kayak diatas, plus……aku menghindari diri sendiri buat berprasangka sama orang ; “udah dibaca kok gak dibalas?” nah sekarang udah dibaca/belum, (kasarnya sih) bodo amat wkwkwk. Kalo cuma di read aku gak sakit hati liat chatku cuma bercentang biru tanpa balasan. Sekarang dibaca/egk warna tetep sama, pun suasana hati juga gak berbeda..biasa aja hehe
    Maaf kak curhat jadinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.