Sosial Media: Dunia Penuh Pencitraan

Dunia sosmed adalah dunia penuh pencitraan, kepalsuan, panggung sandiwara. Siapapun bisa pura-pura begini dan begitu, punya karir cemerlang, rumah tangga super bahagia, serta kehidupan yang serba perfect dan enviable.

Padahal aslinya.. Jauh dari image yang ditampilkan.

That’s why saya sangat berhati-hati dalam menilai seseorang hanya dari profil dunia mayanya, sebelum tahu aslinya seperti apa di dunia nyata. Meski followernya banyak, masuk jajaran seleb sosmed, postingannya sering jadi trending topic…

No, not that easy.

Jangan gampang percaya semua yang ditampilkan di sosial media, apalagi sampai ngefans. Bukan sekali dua kali saya nemu akun yang pencitraannya super dahsyat, followers dan likersnya buanyak, tapi aslinya ZONK. Jauh dari kenyataan.

Contohnya, saya pernah kenal sebuah akun di sosmed beberapa tahun yang lalu. Profilnya keren abis, kuliah di universitas terkenal, dapat beasiswa, berprestasi pula. Sempat kagum pada awalnya, tapi makin lama kok makin ada sesuatu yang aneh dengan akun ini.

There is something doesn’t fit, something feels too good to be true. Tak lama, terbongkarlah bahwa semuanya itu palsu, dusta, pura-pura, zonk. Entah motifnya apa. Lalu akun itu menghilang tak berjejak.

Ada lagi cerita seorang kawan yang cukup miris. Feeds sosial medianya penuh potret kemesraan bersama pasangannya. Dijamin bikin baper dan envy abisss. Tak lama berselang.. Terdengar kabar perpisahan dari keduanya. Kontan saja kami semua shocked, kaget banget-banget. Nggak nyangka hubungan yang so sweet and ‘relationship goals’ material itu berakhir tragis di pengadilan agama.

Ada pula kisah yang tak kalah unik.. Tepat setahun lalu, saya tak sengaja menemukan akun halu yang hobi banget plagiat tulisan-tulian saya di blog ini dan mencuri foto-foto saya, lalu diberi watermark atas namanya. Ketika saya tabayyun, langsung melancarkan jurus ngeles ala bajay, berdusta dan terus berdusta sekaligus berlagak playing victim.

Kronologi lengkapnya pernah saya kisahkan di sini dan sini ya.

Belum lama ini ada teman yang inbox, kebetulan ia berteman dengan akun tsb yang udah ganti akun lagi entah untuk yang keberapa kali. Saya telusuri profilnya.. Ckckck makin dahsyat aja pencitraannya. Mana banyak yang seolah tersihir oleh postingan-postingannya. Nggak tau deh itu postingan asli apa copas. Sangat diragukan keorisinalitasannya 😀

See? Apa yang ditampilkan di sosial media tidak selalu seperti apa yang sebenarnya terjadi. Sifat manusia cenderung menampilkan sisi terbaik dari kehidupannya, dan menyembunyikan kebalikannya. Kalo kata anak muda jaman saya dulu, “Nggak semua yang lo liat dan denger itu bener..”

Hari gini, begitu saja mudah percaya dengan seseorang yang tidak kita kenal dengan baik, belum pernah bertatap muka, belum pernah bermuamalah secara langsung. Hanya melihat dari citranya di dunia maya. Terpana dengan pesona kata-kata yang ia tuliskan, banyaknya like dan pengikut, banyak direkomendasikan oleh socmed user lainnya.

Be careful.. Don’t get easily attached with these kind of people. Until you know them personally. Until you know who they really are in real life.

“Buat apa orang-orang suka pada kita atas sesuatu yang sesungguhnya bukan kita. Atas sesuatu yang tidak sungguh kita lakukan. Memakai topeng. Pemanis kalimat. Menjaga image. Penuh kepentingan, udang dibalik batu. Apa enaknya hidup begitu? Lebih baik apa adanya, terus terang, meski itu membuat sebagian orang salah paham dan bahkan membenci kita. Tetapi itu adalah sesungguhnya kita.” ~Tere Liye

Bersyukurlah kita yang ringan untuk tampil apa adanya, tanpa pura-pura dan sibuk pencitraan sana sini. Selalu jujur jadi diri sendiri sejak awal, no fake or tipu-tipu. Baik di dunia maya maupun nyata.

Meski orang lain nggak kenal siapa kita, postingan kita jarang yang nge-like atau ngeshare, bukan socmed’s sweetheart yang banyak diidolakan netijen.. Tapi kita bebas merdeka menjadi diri sendiri tanpa beban.

Berani jadi diri sendiri. Inilah saya, apa adanya. Dan inilah gaya hidup saya, like it or not. Saya tak ingin mengubah diri dan gaya hidup saya hanya untuk dicap keren, gaul dan kekinian. Atau agar “dianggap” dalam sebuah circle pertemanan.

Jika ada komunitas yang menuntutmu untuk menjadi orang lain dengan menanggalkan jati dirimu, maka dapat dipastikan itu bukan tempat yang tepat untukmu. Masih banyak komunitas lain yang bermanfaat dan mendukungmu untuk jujur menjadi dirimu sendiri.

Buat apa susah payah membangun image (bahkan memalsukan image) hanya demi likes, comments, share atau endorsement belaka? Hidup cuma jadi pengabdi konten, meski kita sendiri merasa tidak nyaman dan tersiksa. I never found those stuffs are worth enough to trade your true self with.

Buat apa pula kita capek-capek tampil keren, selalu up to date dan mentereng hanya demi dikagumi dan diakui oleh orang lain, padahal kitanya sendiri nggak enjoy? Demi membuat orang yang nggak kita sukai merasa terkesan.

Suddenly, I remember this deep quote from Fight Club that makes me think …

We buy things we don’t need with money we don’t have to impress people we don’t like.”

~ Jakarta menjelang senja, Desember 2017.. sebuah pengingat untuk diri sendiri.

 © aisyafra.wordpress.com

[ image source: Pinterest ]

Advertisement

2 thoughts on “Sosial Media: Dunia Penuh Pencitraan

  1. Hai mbak, salam kenal. Just read those related stories. It’s a good thing you made it. Saya kok gak bisa yah, meski bukan hal serupa. Namaku yg dicuri jadi nama pena. Tanya sana sini, ternyata banyak penulis yg bernama lebih besar terpaksa diam utk kasus ‘pencurian identitas’. Terlalu rumit utk diperkarakan.

    Like

    • Salam kenal kembali mbak Esthy. Memang rumit dan njelimet serta butuh effort lebih untuk memperkarakan hal-hal semacam itu. Dan tidak semua kasus harus diperkarakan. Buat saya, kalo udah kebangetan baru saya perkarakan. Agar ada efek jera juga untuk ke depannya.

      Mengutip sebuah komentar apik yang ditulis oleh Fahma Afira di postingan terdahulu:

      “Some people don’t understand what identity theft means and how big of a deal it is, especially when the real person is aware of the condition and have all the necessary proof to speak the truth to a wider audience, so that no one else will be the next target of the same crime. You’ve done more than your share, really.”

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.